Bahri namanya, dengan panggilan Papa Putri dan dikalangan teman sejawatnya dengan panggilan ” Andasong “, Dari Usaha Bawang Goreng Menjadi Garda Kemanusiaan SAR BMI

Tidak semua relawan lahir dari latar belakang kebencanaan atau kemanusiaan. Bahri adalah salah satunya. Ia dikenal sebagai pengusaha bawang goreng, menjalani aktivitas keseharian sebagai pelaku usaha kecil yang fokus menghidupi keluarga. Namun kepeduliannya terhadap sesama membawanya melangkah lebih jauh dari rutinitas tersebut.
Sejak bergabung dengan SAR BMI, Bahri menunjukkan semangat pengabdian yang luar biasa. Meski tanpa pengalaman kebencanaan sebelumnya, ia mampu beradaptasi dengan cepat dan selalu menjadi salah satu relawan yang paling sigap merespons setiap informasi musibah yang terjadi. Ketika kabar duka datang, Bahri tidak menunggu diminta—ia hadir dengan kesiapan dan ketulusan.
Bagi Bahri, menjadi relawan bukan soal latar belakang, melainkan panggilan hati. Di lapangan, ia bekerja tanpa pamrih, membantu evakuasi, distribusi logistik, dan berbagai kebutuhan darurat lainnya dengan penuh tanggung jawab. Semangat fast respon yang ditunjukkannya menjadi contoh bahwa kepedulian sejati tidak membutuhkan gelar atau pengalaman panjang, cukup niat yang lurus dan keberanian untuk bergerak.
Kehadiran Bahri di tubuh SAR BMI menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan dapat tumbuh dari siapa saja. Dari seorang pengusaha bawang goreng, ia menjelma menjadi bagian penting dalam barisan relawan yang siap membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah, kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.
Narasi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan kemanusiaan lahir dari hati yang peka, dan perubahan besar sering dimulai dari langkah sederhana untuk peduli.



